Selasa, 20 Januari 2015

REMAJA MALAS SEKOLAH, SALAH SIAPA?

OLEH: VANISA JANATN ANDRIKANISA

            Malas pergi ke sekolah dan mengikuti pelajaran pernah dirasakan oleh hampir semua siswa. Di MAN 3 Kediri contohnya, ketika bel pulang berbunyi, ada jam pelajaran yang kosong atau terdengar pengumuman pulang lebih awal, siswa berteriak bahagia seperti telah terlepas dari beban berat. Beberapa siswa juga ada yang bolos dari pelajaran padahal mereka berada di sekolah. Ada juga yang bolos sekolah karena di hari itu banyak tugas. Mereka lebih memilih pergi ke perpustakaan, kantin, atau tidur di masjid. Para guru yang bersangkutan telah mengingatkan anak-anak yang bandel dan malas mengikuti pelajaran, namun tetap saja sehari dua hari menurut, setelah itu kambuh lagi.
            Saya sendiri pernah mengalami malas mengikuti pelajaran ketika saya tidak paham dalam materi yang diajarkan atau guru tersebut membosankan, guru terus menerangkan dengan cara yang sama padahal murid tetap tidak paham. Teman saya yang lain mengungkapkan dia malas mengikuti pelajaran ketika ia belum dapat mengerjakan pekerjaan rumah, guru yang mengajar tidak disukai, ketika ulangan harian tapi belum belajar maksimal, atau saat jenuh karena hari-hari itu tugas-tugas menumpuk.
            Dari alasan-alasan yang diungkapkan teman saya ketika ia malas mengikuti pelajaran, saya menyimpulkan dua faktor, yaitu:
1.      Faktor Interinsik
a.       Siswa malas belajar karena kurang atau belum adanya motivasi dalam belajar. Mereka belum mengetahui manfaat dan keuntungan mengikuti pelajaran.
b.      Banyaknya aktivitas atau ekstrakulikuler yang ia ikuti menyebabkan kelelahan dan akhirnya malas belajar.
c.       Pacaran merupakan pilihan siswa serta merupakan salah satu penyebab malas di sekolah dan siswa yang pacaran pasti tidak akan jauh dengan benda yang bernama handphone. Membawa handphone di sekolah membuat konsentrasi terganggu, karena gatget lebih menarik daripada pelajaran. Pacaran merupakan penyebab utama penyakit remaja saat ini yaitu “galau”. Penyakit ini juga dapat membuat siswa tidak fokus di sekolah.
2.      Faktor Ekstrinsik
a.       Orangtua merupakan guru yang utama bagi anak. Banyak anak bandel karena brokenhome. Jika orangtua tidak pernah membimbing, memberi semangat dan motivasi, menggantungkan seluruh pendidikan anaknya kepada guru serta memberi pengetahuan akan pentingnya ilmu, anak tidak akan memiliki tujuan mencari ilmu. Orangtua hendaknya menjadi sahabat bagi anaknya, tempat anaknya mencurahkan isi hati, mencari motivasi dan pembantu menemukan solusi. Bukan dictator yang menyuruh anaknya menjadi apa yang ia inginkan serta menentukan apa-apa yang harus dicapainya. Jika orangtua terlalu mengekang anaknya, anak tidak akan patuh tapi menjadi semakin memberontak dan bisa jadi anak itu akan masuk ke daftar anak-anak bandel.
b.      Guru adalah faktor penting setelah orangtua. Tertarik atau tidaknya murid terhadap pelajaran tergantung pada kedekatan guru dengan murid dan menariknya guru dalam menyampaikan pelajaran sehingga mudah dicerna. Kebanyakan guru yang tidak disukai siswa adalah guru yang memberi banyak tugas, suka mengejek jika anak didiknya namun hanya berbicara sendiri ketika menerangkan. Kalau saja semua guru membawa pelajaran yang diajarkan dengan semenarik mungkin, dan membuat dirinya seperti teman bagi siswa, murid akan tertarik dengan pelajaran dan mencari tahu sendiri tentang ilmu tersebut tanpa diperintah.
c.       Remaja lebih sering berkumpul dengan teman-temannya, jadi pergaulan juga mempengaruhi pola pikir. Jika berteman dengan orang-orang yang rajin ia akan menjadi rajin, dan sebaliknya. Jika pacaran merupakan faktor internal, pacar merupakan faktor eksternal karena juga merupakan pergaulan. Contohnya kalau siswa tersebut memiliki pacar yang yang tidak bisa lepas dari benda elektronik tersebut, siswa akan memiliki kebiasaan yang sama dengan sang kekasih. Di MAN 3 Kediri membawa handphone merupakan larangan bagi siswa, ia akan menyelundupkannya ketika tidak dapat lepas darinya.

d.      Jaman semakin canggih, teknologi komunikasi bisa dinikmati siapa saja. Anak sekolah dasar pun sudah memiliki gatget sendiri. Jika tidak mendapat pengarahan anak-anak akan menggunakan media ini dengan sesuka hati, tanpa ingat tempat dan waktu. Karena HP dan internet telah menjadi sarana penyebaran pornografi, jika anak-anak menggunakannya tanpa pengawasan orangtua bisa jadi kepenasaran mereka yang seharusnya dimanfaatkan secara positif menjadi hal negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar