OLEH:
VANISA JANATN ANDRIKANISA
Malas pergi ke
sekolah dan mengikuti pelajaran pernah dirasakan oleh hampir semua siswa. Di
MAN 3 Kediri contohnya, ketika bel pulang berbunyi, ada jam pelajaran yang
kosong atau terdengar pengumuman pulang lebih awal, siswa berteriak bahagia
seperti telah terlepas dari beban berat. Beberapa siswa juga ada yang bolos
dari pelajaran padahal mereka berada di sekolah. Ada juga yang bolos sekolah
karena di hari itu banyak tugas. Mereka lebih memilih pergi ke perpustakaan,
kantin, atau tidur di masjid. Para guru yang bersangkutan telah mengingatkan
anak-anak yang bandel dan malas mengikuti pelajaran, namun tetap saja sehari
dua hari menurut, setelah itu kambuh lagi.
Saya sendiri
pernah mengalami malas mengikuti pelajaran ketika saya tidak paham dalam materi
yang diajarkan atau guru tersebut membosankan, guru terus menerangkan dengan
cara yang sama padahal murid tetap tidak paham. Teman saya yang lain
mengungkapkan dia malas mengikuti pelajaran ketika ia belum dapat mengerjakan
pekerjaan rumah, guru yang mengajar tidak disukai, ketika ulangan harian tapi
belum belajar maksimal, atau saat jenuh karena hari-hari itu tugas-tugas
menumpuk.
Dari alasan-alasan
yang diungkapkan teman saya ketika ia malas mengikuti pelajaran, saya
menyimpulkan dua faktor, yaitu:
1.
Faktor Interinsik
a.
Siswa malas belajar karena kurang atau belum adanya motivasi dalam
belajar. Mereka belum mengetahui manfaat dan keuntungan mengikuti pelajaran.
b.
Banyaknya aktivitas atau ekstrakulikuler yang ia ikuti menyebabkan
kelelahan dan akhirnya malas belajar.
c.
Pacaran merupakan pilihan siswa serta merupakan salah satu penyebab
malas di sekolah dan siswa yang pacaran pasti tidak akan jauh dengan benda yang
bernama handphone. Membawa handphone di sekolah membuat
konsentrasi terganggu, karena gatget lebih menarik daripada pelajaran.
Pacaran merupakan penyebab utama penyakit remaja saat ini yaitu “galau”.
Penyakit ini juga dapat membuat siswa tidak fokus di sekolah.
2.
Faktor Ekstrinsik
a.
Orangtua merupakan guru yang utama bagi anak. Banyak anak bandel
karena brokenhome. Jika orangtua tidak pernah membimbing, memberi
semangat dan motivasi, menggantungkan seluruh pendidikan anaknya kepada guru
serta memberi pengetahuan akan pentingnya ilmu, anak tidak akan memiliki tujuan
mencari ilmu. Orangtua hendaknya menjadi sahabat bagi anaknya, tempat anaknya
mencurahkan isi hati, mencari motivasi dan pembantu menemukan solusi. Bukan
dictator yang menyuruh anaknya menjadi apa yang ia inginkan serta menentukan
apa-apa yang harus dicapainya. Jika orangtua terlalu mengekang anaknya, anak
tidak akan patuh tapi menjadi semakin memberontak dan bisa jadi anak itu akan
masuk ke daftar anak-anak bandel.
b.
Guru adalah faktor penting setelah orangtua. Tertarik atau tidaknya
murid terhadap pelajaran tergantung pada kedekatan guru dengan murid dan
menariknya guru dalam menyampaikan pelajaran sehingga mudah dicerna. Kebanyakan
guru yang tidak disukai siswa adalah guru yang memberi banyak tugas, suka
mengejek jika anak didiknya namun hanya berbicara sendiri ketika menerangkan.
Kalau saja semua guru membawa pelajaran yang diajarkan dengan semenarik
mungkin, dan membuat dirinya seperti teman bagi siswa, murid akan tertarik
dengan pelajaran dan mencari tahu sendiri tentang ilmu tersebut tanpa
diperintah.
c.
Remaja lebih sering berkumpul dengan teman-temannya, jadi pergaulan
juga mempengaruhi pola pikir. Jika berteman dengan orang-orang yang rajin ia
akan menjadi rajin, dan sebaliknya. Jika pacaran merupakan faktor internal,
pacar merupakan faktor eksternal karena juga merupakan pergaulan. Contohnya
kalau siswa tersebut memiliki pacar yang yang tidak bisa lepas dari benda
elektronik tersebut, siswa akan memiliki kebiasaan yang sama dengan sang
kekasih. Di MAN 3 Kediri membawa handphone merupakan larangan bagi
siswa, ia akan menyelundupkannya ketika tidak dapat lepas darinya.
d.
Jaman semakin canggih, teknologi komunikasi bisa dinikmati siapa
saja. Anak sekolah dasar pun sudah memiliki gatget sendiri. Jika tidak
mendapat pengarahan anak-anak akan menggunakan media ini dengan sesuka hati,
tanpa ingat tempat dan waktu. Karena HP dan internet telah menjadi sarana
penyebaran pornografi, jika anak-anak menggunakannya tanpa pengawasan orangtua
bisa jadi kepenasaran mereka yang seharusnya dimanfaatkan secara positif
menjadi hal negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar